Opini

[Masih] di Rumah Saja

Masih di Rumah Saja – Terakhir kali merasakan kuliah offline itu bulan Maret, sekitar 6 bulan yang lalu. Tak disangka harus melakukan segala aktivitas di rumah aja dari Maret hingga saat ini yang bisa bertambah entah sampai kapan.

Rasa jenuh sudah memuncak. Tidak bisa liburan, jalan-jalan, main, bahkan melakukan kegiatan review seperti dulu. Pandemi COVID-19 merubah segalanya.

Kasus Masih dan Terus Bertambah

Penambahan Kasus Hari Demi Hari
Penambahan Kasus Hari Demi Hari (Sumber gambar: Covid19.go.id)

Kasus COVID-19 di Indonesia kian bertambah setiap harinya. Bahkan beberapa pekan terakhir menyentuh angka diatas 3000 kasus perharinya. Meskipun angka kesembuhan juga lumayan tinggi, tetapi belum ada tanda-tanda penurunan grafik kasus baru sejauh ini.

Masyarakat pun banyak yang sudah menganggap remeh dengan pandemi ini. Terbukti dengan tidak dijalankannya protokol kesehatan, sampai melakukan hal-hal yang tidak perlu seperti lari liar.

Miris melihat ketidakpeduliannya masyarakat terhadap pandemi ini. Banyak daerah yang menjadi zona merah tetapi masyarakatnya tidak ada yang peduli.

Contohnya saja di daerah sekitar rumah saya di Kabupaten Cirebon, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah kebanyakan tidak menggunakan masker sama sekali! Padahal kasus di Kabupaten Cirebon sudah banyak yaitu 555 per hari ini (9/15).

Ketidakpeduliannya masyarakat membuat saya khawatir dengan adanya penambahan kasus COVID-19 yang melonjak. Tetapi saya juga tidak bisa berbuat banyak secara bukan siapa-siapa disini.

Banyak agenda liburan yang tidak terlaksana alias dibatalkan. Mulai dari liburan lebaran hingga liburan semester, sirna semua.

Yang bisa dilakukan saat ini ya masih sama, [masih] di rumah saja.

Kuliah Online [Lagi]

Kulian Daring
Kulian Daring (Sumber gambar: Inisiatnews.com)

Awalnya sih lumayan menerima perihal kuliah online atau kuliah daring ini. Tapi setelah satu semester dijalani, rasanya ternyata cukup berat. Mulai dari tugas yang menumpuk, jadwal yang terkadang tidak sesuai, hingga ketidakjelasannya waktu keluarnya nilai akhir.

Semester kemarin saja, sudah menghabiskan banyak kertas hanya untuk mengerjakan tugas yang bisa dibilang tidak sedikit. Penerimaan ilmu dari mata kuliahnya pun tidak maksimal.

Adanya asisten dosen juga terkadang belum cukup untuk membantu memahami tentang mata kuliah tersebut. Bertanya ke banyak teman dan kakak tingkat pun menjadi keseharian di kuliah daring ini.

Kuliah daring ini juga membuat saya tidak bisa merasakan praktikum yang ada di semester 4 kemarin. Praktikum nya hanya melalui rekaman video, susah untuk membayangkannya.

Responsi dan penulisan laporan praktikum tersebut pun dilakukan secara daring. Waktu yang diberikan juga sedikit. Mengerjakan kedua hal tersebut secara berkelompok dengan daring juga ternyata sulit sekali. Butuh perjuangan yang cukup menguras tenaga.

Untungnya semester kemarin bisa dilewati walau penuh rintangan. Tinggal berdoa agar semester baru besok bisa berjalan dengan lancar walau masih kuliah daring.

Saya hanya bisa berharap agar pandemi ini cepat selesai dan bisa kembali beraktivitas di kampus seperti biasa. Kangen suasana kelas luring dan belajar di perpus soalnya.

Penutup

Sekarang tinggal bagaimana kita membantu pemerintah untuk menghentikan laju penyebaran COVID-19 yang semakin menggila ini. Tetap patuhi protokol kesehatan yang berlaku serta di rumah saja kalau memang tidak ada keperluan yang mendesak.

Semoga pandemi ini bisa cepat berlalu sehingga kita bisa beraktivitas seperi sedia kala.

Terima kasih sudah membaca artikel opini yang berjudul [Masih] Di Rumah Saja, semoga bermanfaat ya!

Show More

Kisna Hafizh J.

Mahasiswa yang suka menulis dan bercerita.

2 Comments

  1. memang daring banyak minusnya ya, apalagi ada praktikumnya hanya membayangkan, ah aneh banget. banyak yang sulit disampaikan apalagi kalau masalah hitung menghitung. tinggal di cirebon jugakah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button