Cerita Pendek : Sahabat Terbaik

Cerita Pendek - Sahabat Terbaik
Cerita Pendek - Sahabat Terbaik (Sumber: Pixabay)

Sabat Terbaik – Halo, kali ini artikel yang diunggah yaitu mengenai karya sastra, lebih tepatnya cerpen atau cerita pendek. Cerita pendek Sahabat Terbaik ini menceritakan pertemanan antara dua teman sebaya di bangku SMA.

Cerita pendek ini hanyalah karya fiksi. Apabila ada kesamaan nama, tempat, maupun waktu adalah hal yang tidak di sengaja. Selamat membaca~

Prolog : Sahabat Terbaik

Aku memiliki seorang teman, bisa dibilang sahabat karib. Dia bernama Retno, yang sekarang satu kelas denganku. Aku dan Retno sudah berteman sejak kecil, kami tinggal satu komplek di jalan Mahoni.

Kami sering bermain kala sore mengisi waktu luang kami, bermain congklak, gundu, engklek, dan lompat tali bersama teman satu komplek. Sangat menyenangkan bagiku menghabiskan waktu sore hari dengan bermain bersama teman.

Namun, sekarang berbeda, sejak SMA waktu sore hari tidaklah kosong lagi. Dengan berubahnya peraturan pendidikan yang mewajibkan full day school, membuatku tidak bisa lagi seperti dahulu. Ohya, perkenalkan, namaku Tiara, kelas X di SMA Harapan Bangsa.

Bagian 1 : Kejadian di Sekolah

Pagi ini aku pergi ke sekolah, rutinitasku setiap pagi untuk menuntut ilmu. Biasa nya aku berangkat dengan Retno, tetapi hari ini dia berangkat duluan karena aku kesiangan.

“Retno, tunggu..” Teriak ku kepada Retno, sahabatku ketika aku sampai didepan sekolah.

Dia menungguku didepan gerbang sekolah.

“Maaf aku kesiangan” kataku.

“Nggak papa, lain kali jangan kesiangan ya!” Jawabnya dengan muka sedikit masam.

“iya maaf ya” balasku.

Percakapan dengan Retno, sahabatku.

*** Akhirnya sampai ke sekolah ***

“Ra, pinjem penghapus dong” pinta Hadi, seseorang yang disukai Retno.

“Aku lupa gak bawa, pinjem Retno aja.” pintaku, sambil tersenyum dan menyikut Retno yang duduk disebelahku.

“Eh, eh.” Jawab Retno Gugup

“Boleh pinjem penghapus?” Tanya Hadi sekali lagi kepada Retno.

“Boleh, boleh banget.. Ini penghapusnya” Jawab Retno

“Makasih ya, nanti kubalikin pas istirahat” Balas Hadi

“Oke” ucap Retno mengakhiri pembicaran kepada Hadi.

Percakapan saat berada di kelas.

Aku yang melihat Retno gugup hanya bisa tertawa cengengesan, Aku tau dia bukanlah tipe cewek yang gampang dekat dengan cowok.

Retno orangnya pemalu, aku tak tau apakah dia takut untuk berbicara kepada orang lain yang belum dia kenal atau dia gugup, haha.

“Apaan sih, Ra?” Nadanya meninggi, aku hanya bisa tertawa

“Hahaha, Senang kan bisa ngobrol sama Hadi?” Celetukku

“Aku malu tau, kamu apa apaan sih, jangan gitu lah” Jawabnya

“Haha, maaf-maaf. Lagian kamu pemalu banget sih gaberani ngobrol sama dia” Jawabku lagi.

“Aku gabiasa kayak gitu” Jawabnya

“Iya, iya.” Sambungku.

Menggoda Retno

Aku yang sedari tadi tertawa, akhirnya memutuskan berhenti dan melanjutkan tugas yang diberi Bu Asih dikarenakan beliau sedang rapat guru dan tidak bisa menghadiri pertemuan dikelas kami.

Bagian 2 : Jam Istirahat

Istirahat pun tiba, aku dan Retno bergegas menuju kantin dengan terburu-buru demi mendapatkan kursi, telat sedikit bakal sesak, haha. Kami akhirnya dapat tempat, kusuruh Retno untuk cem in tempat duduk dan aku memesan makanan.

Setelah memesan makanan, aku kembali ke meja dimana Retno sudah duluan menempatinya. Namun, aku melihat ia sedang berbincang dengan Hadi.

“Retno, ini penghapusmu. Makasih udah mau pinjemin ke aku, aku tadi sebenarnya sudah pinjam ke teman2 lain tapi gak ada yang mau pinjemin..” Ucap Hadi

“Oh ya, gakpapa kok. Lagian aku bawa dua tadi, Had” Jawab Retno

“Aku permisi kalo gitu” Jawabnya sembari meninggalkan Retno

Percakapan Hadi dan Retno

*** Aku memutuskan segera menghampiri Retno ***

“Hayo ada apa tadi sama hadi?” Tanyaku.

“Gak kok, dia balikin penghapus aja tadi” jawab dia.

“Oh kalo gitu makan dulu aja yuk! Terus balik ke kelas” Jawabku cepat, karena udah laper banget.

“Oke” Jawabnya.

***

Setelah itu kami kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya. Setelah bel berbunyi, yang menunjukkan jam pelajaran telah usai, aku bergegas pulang.

“Pulang yuk” Ajakku

“Kamu duluan aja, aku mau pergi beli sesuatu dulu” Tolaknya

“Ku temenin ya?” Pintaku

“Gak usah, kamu duluan aja, Ra”

“Oh oke kalo gitu, aku duluan ya! Hati-hati dijalan” Jawabku

“Kamu juga, Ra!”

Bagian 3 : Retno Pindah

Keesokan hari nya, seperti biasa aku menunggu Retno menghampiri ku untuk pergi ke sekolah bersama. Namun, dia tak kunjung menghampiri ku. Sampai Ibu bertanya kepadaku.

“Kamu nunggu siapa, Nak?” Tanya ibu.

“Nunggu Retno, Bu. Biasanya kan dia kesini dulu sebelum berangkat sekolah” Jawabku cemas.

“Lho, apa Retno ga bilang ke kamu kalo dia mau pindah kemarin, Nak?” Jawab Ibu heran.

“Apa Bu? Retno pindah? Kok dia gak bilang sama aku?” Tanyaku sedih

Aku pun tak kuat menahan air mata ini, aku menangis.

“Ibu juga gak tau, nak. Tapi dia nitip surat ke Ibu, untukmu.” Jawab Ibu sambil menenangkanku.

Lalu ibu beranjak pergi untuk mengambilkan surat dari Retno.

“Ini, surat dari Retno yang dititipkan ke Ibu” Jawab ibu, sambil memberikan surat itu kepadaku.

“Terima kasih, bu.” Jawabku sambil mengusap mata.

“Aku berangkat dulu ya bu!” Jawabku lemas

“Hati-hati ya, Nak” Jawab Ibu

Percakapanku dengan Ibu

Sesampainya disekolah, aku membaca surat yang dititipkan untuk ku, surat berwarna putih polos tanpa ada nya gambar dan hanya bertuliskan namaku.

Bagian 4 : Surat dari Retno

“Kepada sahabatku, Tiara.

Maafkan aku jika selama ini aku ada salah ke kamu, maaf selama ini jika aku menyusahkanmu. Maaf juga aku gak bilang kalo aku pindah hari ini.

Aku gak mau kamu sedih, jadi kutitipkan surat ini kepada ibu mu. Aku pindah ke Kalimantan, karena ayahku dipindah tugaskan kesana. Aku harap meskipun kita terpaut jarak yang sangat jauh, pertemanan kita gak berakhir ya, Ra.

Terima kasih sudah menjadi teman terbaik yang aku punya. Kalo ada waktu libur, doakan aku bisa bertemu denganmu lagi ya. Kamu bisa lho main kesini, rumahku selalu terbuka jika kamu ingin main kesini. Kutunggu surat balasanmu ya!

Salam, teman terbaikmu,

Retno”

Surat dari Retno

Penutup

Aku masih tak percaya bahwa dia sudah pindah keluar jawa. Tapi, pertemanan kita tetap berlanjut hingga saat ini.

Aku masih terus kontak-kontakan sama dia walaupun hanya melalui surat dan melalui sms, bercerita banyak hal-hal yang menarik, bahkan dia masih bercerita tentang Hadi!

Aku dan Retno adalah teman terbaik yang tidak bisa dipisahkan walaupun jarak membatasi kita.

~Selesai


Artikel ini merupakan bagian dari rubik Sastra, dimana hal-hal yang berbau sastra seperti cerpen (cerita pendek), puisi, cerbung (cerita bersambung), dan lain-lainnya.

Cerpen mengenai Sahabat Terbaik ini merupakan cerita pendek pertama yang saya buat. Apabila ada kritik dan saran tentang cerpen : Sahabat Terbaik, kirim di kolom komentar ya!

Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat!

Mahasiswa yang suka menulis dan bercerita.