Arti dan Makna Lagu Multo – Cup of Joe (2025), Tentang Kenangan yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi
Ada lagu yang enak didengar. Ada lagu yang bikin galau. Dan ada lagu yang terasa seperti datang diam-diam lalu duduk di sebelah kita saat malam terlalu sepi.
Table Of Content
“Multo” dari Cup of Joe termasuk yang terakhir.
Dirilis sebagai bagian dari album Silakbo (2025), lagu ini langsung mencuri perhatian. Bukan cuma karena melodinya yang lembut dan emosional, tapi karena liriknya terasa seperti isi kepala banyak orang: tentang kenangan, tentang perasaan yang belum selesai, tentang sesuatu yang sudah kita kubur — tapi entah kenapa masih muncul lagi.
Dan seperti judulnya, lagu ini memang tentang “hantu”.
Tapi bukan hantu dalam arti sebenarnya.
Video Musik “Multo”: Ketika Kenangan Hadir Seperti Bayangan
Sebelum masuk ke lirik, kita bahas dulu video klipnya.
Video musik “Multo” menggambarkan sosok yang terus muncul seperti bayangan dalam kehidupan seseorang. Visualnya cenderung redup, penuh permainan cahaya dan gelap — seolah ingin mempertegas konsep “hantu” yang bukan benar-benar makhluk, melainkan kenangan yang tak pergi.
Adegan-adegannya tidak berlebihan. Justru sederhana. Tapi di situlah letak kekuatannya.
Sosok yang sudah tak bersama lagi tetap muncul dalam ruangan yang sama, dalam jarak yang dekat, dalam momen yang seharusnya sudah selesai. Ia tidak benar-benar ada, tapi terasa nyata.
Dan di situlah inti lagu ini:
Kadang yang menghantui bukan orangnya. Tapi perasaannya.
Lirik Lagu “Multo” – Cup of Joe
Berikut beberapa bagian penting dari lirik lagu “Multo” beserta arti dalam Bahasa Indonesia.
Verse
Humingang malalim
Tarik napas dalam-dalam
Pumikit na muna
Tutup mata dulu sebentar
At baka sakaling namamalik mata lang
Dan mungkin ini hanya karena mataku sedang berhalusinasi
Ba’t naba bahala? ‘Di ba’t ako’y mag isa?
Kenapa aku cemas? Bukankah aku sendirian?
‘Kala ko’y payapa, boses mo’y tumatawag pa
Kupikir sudah tenang, tapi suaramu masih memanggil
Di bagian awal ini, narator seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja. Ia mencoba bernapas, mencoba tenang, mencoba berpikir bahwa apa yang dirasakan hanyalah ilusi.
Tapi suara itu tetap ada.
Kenangan itu tetap ada.
Pre-Chorus
Binaon naman na ang lahat
Sudah kukubur semuanya
Tinakpan naman na ’king sugat
Sudah kututup lukaku
Ngunit ba’t andito pa rin?
Tapi kenapa masih ada di sini?
Ini bagian yang paling relatable.
Kita merasa sudah move on. Sudah selesai. Sudah berdamai.
Tapi kenapa masih terasa?
Chorus
Hindi na makalaya
Tak bisa bebas
Dinadalaw mo ’ko bawat gabi
Kau mengunjungiku setiap malam
Wala mang nakikita, haplos mo’y ramdam pa rin sa dilim
Meski tak terlihat, sentuhanmu masih terasa dalam gelap
Pasindi na ng ilaw
Tolong nyalakan lampu
Minumulto na ’ko ng damdamin ko
Aku dihantui oleh perasaanku sendiri
Di sinilah kata “multo” benar-benar menemukan maknanya.
Yang menghantui ternyata bukan sosok lain.
Tapi perasaan sendiri.
Kalimat “Minumulto na ’ko ng damdamin ko” adalah inti dari seluruh lagu ini. Bukan dia yang datang. Bukan dia yang kembali.
Tapi hati ini yang belum benar-benar selesai.
Bridge
Hindi mo ba ako lilisanin?
Tidakkah kau akan meninggalkanku?
Hindi pa ba sapat pag papahirap sa ’kin?
Belum cukupkah kau menyakitiku?
Hindi na ba mamamamayapa?
Apakah aku takkan pernah damai?
Di bagian ini terasa sekali kelelahan emosionalnya.
Bukan lagi marah.
Bukan lagi sedih berlebihan.
Tapi lelah.
Lelah karena perasaan yang terus kembali.
Arti dan Makna Lagu “Multo”
Secara harfiah, multo berarti “hantu” dalam bahasa Tagalog.
Namun dalam lagu ini, hantu bukan makhluk menyeramkan.
Hantu adalah:
- Kenangan yang belum selesai
- Cinta yang tidak benar-benar berakhir
- Rasa bersalah yang belum termaafkan
- Atau kehilangan yang belum diterima
Lagu ini menggambarkan fase setelah patah hati. Bukan saat menangisnya. Bukan saat marahnya.
Tapi saat semuanya sudah tenang — dan justru di situ kenangan datang kembali.
Ia muncul saat malam.
Saat sendiri.
Saat tidak ada distraksi.
Dan kadang kita sadar: yang sulit dilepaskan bukan orangnya, tapi versi diri kita saat bersama dia.
Kenapa Lagu Ini Begitu Relatable?
Karena hampir semua orang punya “multo”.
Mantan yang tiba-tiba teringat saat dengar lagu tertentu.
Mimpi yang gagal diwujudkan.
Keputusan yang terasa salah.
Atau seseorang yang pergi tanpa penjelasan.
Kita bisa menghapus foto.
Bisa menghapus chat.
Bisa unfollow.
Tapi tidak bisa semudah itu menghapus perasaan.
Itulah kenapa lagu ini viral dan terasa dekat dengan banyak pendengar. Musiknya lembut, tapi liriknya tajam. Tidak berteriak, tapi menghantam pelan-pelan.
Kesimpulan
“Multo” bukan sekadar lagu patah hati.
Ia adalah lagu tentang bagaimana perasaan bisa bertahan lebih lama dari yang kita kira. Tentang bagaimana kita bisa terlihat baik-baik saja di siang hari, tapi dihantui pikiran sendiri saat malam datang.
Dan mungkin, lagu ini tidak mengajarkan kita cara melupakan.
Tapi mengajarkan satu hal yang lebih penting:
Bahwa terkadang, berdamai bukan berarti menghapus — melainkan menerima bahwa kenangan itu pernah ada.
Dan pelan-pelan, membiarkannya tidak lagi menakutkan.



